Cerpen "Jingga di Pantai Minajaya"

                   JINGGA DI PANTAI MINAJAYA
                         (Oleh Sunartin)

                                            Surade, 6 Juni 2020
    (Foto bersumber dari garispantai.com)

Udara pagi yang sejuk selalu mengantarkan aku ke gerbang harapanku. Setiap pagi aku paling semangat berangkat ke sekolah untuk meniti ilmu. Aku tidak termasuk siswa yang pandai, tapi kata temanku, aku rajin. Entah dilihat dari sudut pandang mana teman-temanku bisa mengatakan seperti itu. Aku tidak tahu dan tidak mau tahu biarlah orang lain yang lebih tahu.

Aku suka kegiatan ekstra kurikuler pramuka, karena dalam pramuka itu ada dasar kedisiplinan yang tinggi, rasa kekeluargaan, kebersamaan, kegotongroyongan, kemandirian, dan belajar kepemimpinan, aku dapatkan dari kegiatan ektra tersebut. Setiap tahunnya ada yang dinamakan Penerimaan Anggota Baru (PAB). 

Kegiatan yang selalu ditunggu-tunggu karena ada momen yang agak berbeda dengan kegiatan seperti biasanya. Aku paling suka membantu atau disuruh kerja apa saja mau. Apalagi yang menyuruhnya seorang perempuan atau bahasa gaulnya ‘caper’. 

Tiba saatnya PAB biasanya dilaksanakan di luar lingkungan sekolah. Tempat yang dipilih oleh panitia kebetulan di pesisir Pantai Minajaya, yang tidak jauh dari lokasi rumah dan sekolahku. Suatu tempat yang sangat indah untuk dijadikan obyek membuat sebuah karya sastra. 

Aku suka pelajaran yang berbau bahasa, terutama tentang sastranya. Baik Sastra Indonesia maupun Sastra Sunda. 
Subhanallah betapa indahnya lukisan alamMu yaa Rabb……Engkau suguhkan kepada ummatMu di dunia ini. Aku menyendiri di bawah pohon rindang aku duduk di atas  hamparan batu karang ditemani segelas kopi hangat. 

Aku  mulai mencoba menulis sebait puisi dan tak hentinya angin laut yang selalu membelai wajahku. Entah siapa yang ada di ujung penglihatanku ada sesosok wanita berhijab pramuka. Berdiri di tepi pantai hanya melompat kecil menghindari ombak ke bibir pantai. Tak Nampak wajahnya, silau pantulan sinar matahari mulai senja. Seperti siluet yang terlihat hanya  berkelebat hijabnya yang tertiup angin laut, bak mengajakku untuk menemaninya. Luar….biasa menambah satu lagi keindahan yang ada dalam hidupku. 

Aku tertegun, terbangun dari lamunanku oleh suara Arif yang keras mengajakku untuk membantu anak perempuan mendirikan tenda. Aku masih penasaran dengan gadis yang di seberang sana itu siapa? Tak terlihat wajahnya karena dia membelakangiku. Aku mendekat ke telinga Arif, ‘’Rif, gadis itu siapa?’’ sambil menunjuk ke arah gadis itu. 
‘’Siapa ya? ……sebentar aku lihat dari samping!’’ Tak lama kemudian Arif kembali lagi mendekati Jingga. ‘’Teman kita Jingga, samping kelas kita kelasnya.’’
‘’ Iya siapa? yang aktif di pramuka kan banyak? 
‘’Itu…….yang ikut ekskul dumband juga.’’
‘’ Yang ikut drumband? di kelas itu kan, cuma Mawar.’’
 ‘’Mawar ya Rif? ‘’
‘’Ya iya lah, ya siapa lagi? Emang kenapa?’’ Tanya Arif. 
‘’Engga…..engga apa-apa kok. Cuma mau tau aja. Soalnya wajahnya tak terlihat,’’ jawab Jingga 
Dalam hati Jingga semoga aku dipersatukan di kelas yang sama jika kelas XII nanti. Aku mau lebih tau tentang dia.

Berkat keaktifannya di Ekskul pramuka aku oleh rekan-rekan sekolahku terpilih menjadi wakil ketua OSIS mendampingi Arif sebagai ketuanya. Arif memang sahabatku dari dulu. Jadi sudah paham karakternya. Aku dipasangkan dengan Arif memang sekarakter jadi sangat cocok untuk partner organisasi. 

Do’anya terkabul, pas kelas XII ketiganya dipersatukan dalam satu kelas yang sama. Semakin hari Jingga dan Mawar semakin akrab. Ketika Jingga punya masalah pasti curhat ke Mawar. Mawar memang satu-satunya teman wanita yang enak untuk diajak ngobrol. Mulai ngobrol yang ringan sampai berdiskusi organisasi atau tentang pendidikan. Mereka sudah merencanakan untuk kuliah dan sukses bareng-bareng. 

Mawar pernah meminjam buku saku aku, karena bukunya ketingalan. Buku sakuku bersampul biru. Agar lebih mudah mencarinya dan beda dari yang lainnya. Waktu acara api unggun mulai  Mawar memakai syal warna jingga punyaku. Kasihan dia kedinginan. Dan buku kecilku tak pernah lepas dari genggamannya. Di seberang lingkaran sana, Arif menatapku beda. Tidak seperti biasanya. Ceria. 

Usai acaranya, tiba-tiba Arif menghampiri Mawar.
‘’Unga, itu syal siapa? Perasaan …..itu punya Jingga ya?’’
‘’Iya….ko tau?’’ Mawar balik nanya.
‘’Iya karena Jingga sering memakainya. Gak pernah ketinggalan,’’ jawab Arif.
‘’Emh……ya udah lah ….ga apa-apa…terima kasih. Maaf  Unga, telah mengganggumu.’’

Ternyata tidak Jingga saja yang menyukai Mawar itu. Arif pun dalam hati kecilnya menaruh hati ke Mawar. Padahal tau bahwa Jingga lebih dulu dekat dengan Mawar. Biarlah kata anak muda itu ‘teman makan teman.’ Kita bersaing sehat saja. Sebelum janur kuning melengkung di depan rumahnya. Mawar masih milik kita bersama.

Dipenghujung semester  ada salah satu pelajaran tentang monolog atau percakapan seorang  diri. Aku duluan yang berani maju ke depan. 
Namaku Jingga aku dilahirkan dari kedua orang tua yang hidup sederhana. Ayahku seorang petani dan sesekali sebagai tukang sayur keliling. Ibuku sebagai ibu rumah tangga yang membantu meringankan beban ayahku dengan berjualan goreng-gorengan keliling. 
Jam dinding berbunyi  sudah biasa membangunkan kedua orangtuaku. Menandakan Jam-jam ayam baru bangun dari mimpinya.  Ibu memasak menyiapkan untuk sarapan pagi dan membuat goreng-gorengan untuk dijajakan pagi hari. Sedangkan ayah pergi ke pasar dengan gerobak sayur yang setia menemaninya. Aku anak tunggal. Pernah mempunyai adik. Namun meninggal waktu masih bayi. 
Aku dilahirkan prematur di tempat menyimpan padi, karena sudah tidak kuat mau lahiran padahal belum waktunya menurut perhitungan di kalender. Sekitar usia Taman Kanak-kanak aku melihat padi berceceran langsung memungutnya. Karena merasa sayang hasil jerih payah kedua orang tuaku bertani dan tidak boleh menjual padi. Kata ibuku mungkin karena aku dilahirkan di lumbung padi, makanya ada sifat seperti itu. Padahal itu hanya mitos saja. 

Waktu kecil badanku gemuk. Tapi pas masuk ke SD mulai berkurang, tingginya semakin bertambah. Nah, sekarang sudah usia SMA badanku kecil, tapi tingginya melebihi teman seusiaku.

Sepertinya aku cocok jadi TNI. Apalagi ketika berpakaian pramuka. Badannya tegap, pakaian yang ngepas badan,   dan banyak atribut kepangkatannya.

Menyekolahkan anak itu tidak mudah. Orang tua butuh perjuangan, pengorbanan demi anak dan memenuhi kebutuhan hidup keluargaku. Aku bangun tidur mau shalat shubuh kedua orangtuaku sudah tidak ada di rumah. Sudah berangkat sesuai pekerjaannya masing-masing. Aku sudah terbiasa sarapan pagi menyiapkan perlengkapan sekolahku dikerjakan sendiri. Sudah sampai di sekolahku. Ayahku pulang dari pasar dan menjajakan dagangannya. Kebetulan melewati sekolahku. Aku dibully oleh teman-temanku. 
‘’Tuh …..lihat sebentar lagi mobil Si Jingga lewat.’’

Dalam hatiku marah, sakit hati, dan mau menampar temanku itu. Tapi ….jika kulakukan semua itu malah tidak baik. Biarlah jadi pemicu, penyemangat aku belajar lebih giat dan rajin untuk membuktikan bahwa aku anak tukang sayur harus berprestasi dan berhasil. Itu tujuanku. 

Setiap hari dagang sayuran itu kadang laku semua, kadang tidak. Kembali modal juga sudah alhamdulillah. Suatu waktu sayuran tidak laku sepeserpun. Ayahku pulang dengan muka kusut dan lesu. 
‘’Jingga bagikan sayuran itu, ke  tetangga! Sayang….. mau dijual besok ga bakalan laku karena sudah layu,’’ kata ayah. 

Aku merasa kasihan. Perjuangan ayahku dari jam tiga malam pulang jam tiga sore dengan tangan hampa. Saya berpikiran sayuran itu mau dijual seberapapun yang penting jadi uang.  Ternyata ayahku melarangnya, lebih baik dikasihkan saja. 

Ayahku tidak putus asa berangkat lagi ke pasar. Sepulang  dari pasar, ayahku biasa menjajakan dagangannya. Bencanapun menimpanya ayahku tertabrak motor hingga retak tulang punggungnya. Sudah sembuh, namun berjalan agak kurang tegak tidak seperti dulu. Jualan sayuran lagi, tak patah semangat. ’’Semoga ada rizkinya,’’katanya.
Ayahku tidak pernah mengeluh begitu juga ibuku. Aku tau, bahwa ibuku sakit dari tetanggaku yang sama-sama pengajian dengan ibuku, tetangganya bilang, ‘‘Tak pernah bilang ke Si Ujang takut konsentrasi belajarnya terganggu.’’

 Ibuku diam-diam membelikan sepatu sebagai hadiah ulang tahunku. Di awal Januari selisih dua hari dengan tanggal lahir ibuku. Aku juga diam-diam membelikan baju gamis muslimah buat kado ulang tahun ibuku.

Pas di hari ulang tahunku ibuku memberikan sepatu ke aku. Aku juga memberikan gamis. Aku merasa bahagia, karena selama 3 tahun aku belum pernah belikan sepatu lagi. Begitu juga ibuku menangis terharu sambil memelukku dan menanyakan uang dari mana bisa membeli baju. Aku jawab dari sisa uang jajan ditabung untuk membeli kado ulang tahun ibuku. 
‘’Terima kasih Jingga, gamis itu akan ibu pakai saat kamu perpisahan kelas XII nanti,’’ kata ibu.
Gamis jingga warna kesukaan ibuku itu, dimasukan lagi ke dus kadonya. 
Tak lupa ada kue ulang tahun pemberian Mawar untuk Ibunda Jingga sebagai teman dekatnya.

Ibuku sudah usia senja. Malam itu, ibuku kambuh dari  penyakitnya. Sampai tidak bisa berjalam mau ke kamar mandipun aku pangku dan tak lama kemudian ibuku dipanggil oleh Allah SWT. Tangisku pecah melihat ibu sang ‘’Pejuang Tangguh’’ terkulai lemas sampai terbujur kaku. 

Aku berusaha tegar dan  sabar. Ku hantarkan do’a terbaik untuk ibuku. Semoga diterima amal ibadahnya dan ditempatkan di tempat yang layak di sisiNya.  Aku mengantarkan sampai ke peristirahatan terakhir, bahkan aku mengadzaninya di liang lahat. Selamat jalan ibuku…..Do’aku selalu menyertaimu ibu.

Selang beberapa hari ibuku meninggal. Ayah dan aku dipanggil oleh pihak bank yang ada di wilayahku. 
‘’Ya Allah ada ujian apa lagi yang akan menimpa keluargaku?’’

Sekilas berpikiran keluargaku terlilit utang. Namun dugaan itu salah. Justru lebih kaget lagi, pihak bank memperlihatkan saldo yang ada direkening ibuku jumlahnya yang sangat  pantastis. 

Cukup buat kuliah. Bahkan aku tidak tahu, kedua orang tuaku sudah daftar untuk pergi ke tanah suci. 
Di depan pusara ibu, aku bertekuk lutut sambil berdo’a dan menabur bunga kemboja. Perlahan aku bergeser dan mencium batu nisan, ‘’Ibu………perpisahannya tidak jadi, karena dunia sedang dilanda corona. Izinkan…..! aku sedekahkan gamis pemberianku untuk ibu-ibu di kampungku yang kurang mampu.’’

******Sekian dan terima kasih******





Sunartin, S.Pd., lahir di Sukabumi pada tanggal 20 Mei 1978. Saya menyelesaikan pendidikan di SDN 3 Surade,  di SMPN 1 Surade, dan di SMAN Jampangkulon, kemudian melanjutkan ke perguruan tinggi di UPI Bandung, Jurusan Bahasa Sunda jenjang S1 lulus tahun 2003. 

Sekarang saya mengajar di MAN 3 Sukabumi. Pengalaman menulis tahun 2019 menulis Real Short Story berupa sebuah antologi yang berjudul ‘’Guru Madrasah Bagja dan Berkah’’. Sekarang  menulis artikel di blog sesuai  hobi saya dengan website caramembuatbusanamuslimah.com Untuk korespondensi dengan penulis, bisa melalui sunartinhj@gmail.com



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini