Cerpen "Pejuang Sebatang Kara"

PEJUANG SEBATANG KARA
(Oleh Sunartin)
Sumber foto: kabarhandayani.com

Tubuh mungilnya semakin berotot, karena tiap hari mengangkat beban. Beban yang dipikulnya cukup berat. Begitu juga beban hidupnya.
Tiap hari harus turun gunung naik gunung untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Rumah panggung satu-satunya di pasir itu. Tampak asri dan sejuk, dengan hamparan petak sawah membentuk terasering yang indah. Hamparan padi menghijau bak permadani membuat hati tenang, tentram semua mata memandang. 
Sosok gadis   mungil tumbuh remaja. Teman sebayanya sering memanggil Yuyun. Nama aslinya Kowiyun, yang tak pernah ketinggalan dari Mak Ihat seorang nenek renta yang setia mengasuh Yuyun dari bayi. Ikatan batin Yuyun ke Emaknya seperti ke ibu kandungnya sendiri. Padahal Yuyun tak pernah bertemu sekali pun dengan kedua orang tuanya. Yuyun tahu ayah dan ibunya hanya dari cerita Emaknya. Seperti di negeri dongeng orang tua yang tak merindukan anaknya. Yuyun belum paham sepenuhnya, karena kasih sayang sepenuhnya dari Emak Ihat. Menghabiskan hari-harinya di sekolah dasar cukup bahagia, karena di setiap akhir tahun Yuyun selalu mendapatkan banyak hadiah berkat kepintaran yang dimilikinya. Yuyun tak pernah mengenal sekolah PAUD atau TK seperti sekarang ini. Yuyun bisa baca tulis berkat Mak Ihat seorang tamatan SD. Biaya sekolah gratis membantu meringankan beban Mak Ihat.  menyekolahkan Yuyun. Setelah tamat SD Yuyun melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama dengan beasiswa dan sekolahnya tak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Namun setelah itu Yuyun ingin melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas. Sebenarnya Emak Ihat sudah tak kuat lagi membiayai cucu kesayangannya itu. Namun Mak Ihat tak pernah memperlihatkan raut wajah yang pesimis. Tetapi selalu optimis, karena Mak yakin ada yang di atas yang mengatur segalanya. Maha kaya, Maha pengampun, dan Maha pemurah.

Biaya hidup sehari-hari Mak Ihat dan Yuyun berjualan sayuran dari kebun di samping rumahnya. Setiap hari makan sayuran yang membuat tubuhnya semakin sehat. Lauk pauknya cukup memancing ikan mujair di belakang rumahnya ada kolam kecil peninggalan kakeknya semasih hidup.

Yuyun ingat pesan kakek, "Kita orang gunung, harus pintar berkebun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, karena ke pasar terlalu jauh. Kalau punya uang kita tabung untuk masa depan. Karena hidup dan mati jaman sekarang pasti membutuhkan uang. " Itu pesan kakeknya yang terakhir kali. 

Sekarang kakek sudah tiada. Yuyun hanya merenungkan perkataan kakeknya. Benar juga ya. Sekarang Yuyun mau melanjutkan sekolah, meskipun beasiswa tetap saja membutuhkan uang untuk keperluan hidup. Jangan mengeluh karena kita punya yang di atas. Meminta saja kepadaNya di sela shalat yang lima waktu. Ok! Semangat...semangat di mana ada kemauan pasti ada jalan. Aamiin. 
Yuyun tak pernah mengeluh kepada siapa pun termasuk ke Emaknya. Saudara tak ada begitu juga tetangga. Benar- benar hidup terisolir jauh dari keramaian. Dalam peribahasa Sundanya, "Tiis ceuli berang mata".

Tak terasa kini Yuyun mengenyam pendidikan di bangku SMA. Padahal tak pernah terlintas di benaknya untuk mengenyam pendidikan yang cukup tinggi. Pendidikan setingkat SMA itu membutuhkan biaya yang tak sedikit. 
Namun Alhamdulillah sekarang ini pemerintah banyak mencurahkan berbagai macam bantuan, mulai untuk anak sekolah sampai masyarakat biasa pun banyak yang mendapat bantuan. 

Untuk anak usia sekolah sekarang ini asal ada kemauan untuk sekolah yang sungguh-sungguh insyaallah di bantu oleh pemerintah. Tinggal kita memikirkan untuk biaya hidup. Itupun akan dipermudah oleh Allah SWT, jika kita selalu berikhtiar dan berdo'a. 

Jarak rumah Yuyun ke sekolah lumayan jauh. Jika naik angkutan cukup membayar empat ribu rupiah. Jika berjalan kaki kurang lebih satu jam. 

Dulu Emak Ihat yang merawat Yuyun. Sekarang sebaliknya Yuyun yang merawat Emak Ihat sudah setahun lebih Mak Ihat terserang penyakit stroke. Badan sebelah kiri tidak bisa bergerak. Hanya tergolek lemah di ranjang tua. Semua yang mengurus hanyalah Yuyun. Anak laki-laki Emak  yang satunya tak pernah menengok. Entah masih ada, entah sudah tiada. Dulu berpamitan ke Emak mau merantau ke negeri orang.

Kondisi Emak yang semakin memprihatinkan, makan, tidur, buang air kecil, dan buang hajat di tempat tidur. Kebayang gadis belia yang seharusnya bisa menikmati masa-masa remaja tersita hanya untuk mengurusi Emak yang telah mengurusnya sejak kecil. 

Jika Yuyun pergi sekolah, Emak dititipkan ke tetangganya dan Si Empus yang setia menemani Emak tiap hari. Hampir tiap hari Yuyun ke sekolah kesiangan. Berbagai macam sanksi selalu dilakukan tak pernah membantah, memang ia bersalah, namun ia bersikukuh untuk sekolah. 

Teman laki-laki yang sekelasnya suka menjodoh-jodohkan dengan Yuyun. Gak pernah ada yang mau  karena suka kesiangan dan pakaiannya yang lusuh. Tak sempat mengurus diri, mengurus Emaknya juga susah payah. Sulit untuk membagi waktu. Waktu belajar dan istirahat pun banyak yang tersita. 

Di kelasnya Yuyun termasuk siswa yang cerdas dan tulisannya bagus. Tak sedikit bapak ibu guru meminta bantuan untuk menulis sesuatu oleh Yuyun.  Nilai hariannya lumayan bagus, namun tak sedikit juga yang memberi nilai kurang dari KKM karena tidak mengumpulkan tugas tak pernah ada yang tahu latar belakangnya. Karena dia anak yang rajin hanya hampir setiap hari kesiangan itu saja. Jadi hampir tidak ada yang mencurigakan lah istilahnya. 
 
Suatu ketika tepatnya hari Jum'at Yuyun datang tepat waktu, waktu itu Emak menyuruhnya sesegera mungkin untuk berangkat ke sekolah untuk mengikuti kuliah Duha dan kultum. Selang beberapa menit setelah kegiatan tersebut ada kerabat dekat Yuyun menjemput ke sekolahnya dan mengabarkan bahwa Neneknya telah meninggalkan Yuyun untuk selama-lamanya.
Innalillahi wa Inna ilaihi Roji'un semoga Emak  di tempatkan di syurgaMu ya Rabb....

Tamat.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen "Jingga di Pantai Minajaya"